"
Senin, 28 Oktober 2019
Garuda Indonesia Hentikan Operasi Fokker F-28
"Garuda Indonesia Hentikan Operasi Fokker F-28 Penutupan operasi pesawat tipe F-28 ini diikuti dengan penerbangan terakhir dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta mengarah Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta. Pemberangkatan ditangani menggunakan pesawat F-28 seri PK-GKZ sekitar jam 10.00 WIB. Turut turuti penerbangan itu, bukan sekedar Abdulgani, ada Rudi A Hardono, Direktur Operasi Garuda dan Richard Budihadianto S, Direktur Teknik Garuda. Perjalanan selama 50 menit ini diterbangkan oleh Noor Wahjudie, Chief Pilot F-28 Garuda. Menurut Abdulgani, pesawat berpenumpang 85 orang ini, sudah kerja sejak 1984. Diharapkan berhentinya operasi pesawat ini, akan membuat munculnya target pasar baru pada beberapa bussines travelers di bagian domestik. “Para pengguna Garuda agar makin bertambah nyaman dan ketepatan dalam lakukan penerbangan dengan kami,” tuturnya. Bukan sekedar menambahkan service, Abdulgani menerangkan, aplikasi phase out pesawat F-28 itu ialah bagian dari usaha Garuda menyederhanakan tipe dan tipe armadanya. Perusahaan ini diharapkan hanya jalankan beberapa tipe pesawat seperti Boeing dan Airbus saja. “Kita ingin semua pesawat yang kerja seragam,” katanya. Tidak beroperasinya lima pesawat Fokker-28 itu, kata Abdulgani, membuat potensi armada Garuda jadi 44 buah pesawat. Ini terdiri dari B-747-400 (4 buah), B-747-200 (4 buah), A-330-300 (6 buah), DC-10-30 (5 buah), B-737-300 (14 buah), B-737-300 (7 buah) dan B-737-500 (5 buah). Sekejap lima pesawat F-28 yang diberhentikan operasinya, tipe F-28 MK 3000 (3 buah) dan F-28 Mk 4000 (2 buah). Awalannya Garuda tidak jalankan pesawat tipe DC-9 dan B-737-200. Rudi A Hardono menerangkan, pesawat F-28 Garuda selama kerja mendapatkan perawatan teratur. Diantaranya pre flight cek (PFC) setiap hari waktu akan terbang dan A-check setiap waktu usai penerbangan. Pesawat F-28 mendapatkan perawatan berjangka B-check setiap 125 jam terbang, C-check setiap 250 jam terbang, 1/2 E-check setiap 6.000 jam terbang dan E-check setiap 12 ribu jam terbang. Hardono menerangkan, pesawat F-28 mulai didatangkan sejak tahun 1971 sampai tahun 1984. Mulai 1977, kedatangan pesawat F-28 ialah penyelesaian program jetisasi semua pesawat yang kerja. “Sebelumnya masih ada pesawat non jet (propeller atau baling-baling),” tuturnya. Setelah tidak kerja, lanjut Rudi, gagasannya pesawat F-28 akan disimpan di Hangar 2 bandara Cengkareng. Gagasannya pesawat yang dibeli baru di harga US$ 10 juta itu akan dijual seharga US$ 1,5 juta. “Tapi sampai kini masih belum ada yang kerjakan penawaran,” tuturnya. (E. Karel Dewanto) ""
"
"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar