
Jasin menjelaskan selama ini orang-orang yang berada di daerah (kota lapis kedua dan ketiga) mengalami kesulitan akses perbankan. Menurut dia, banyak yang orang di daerah yang sudah mengetahui produk online, namun sulit untuk melakukan pembayaran.
Dengan adanya agen Kioson di daerah, konsumen tinggal datang ke agen itu. Beli pulsa, beli barang online, ambil duit di bank, bahkan untuk buat rekening bank, ujarnya menjelaskan konsep jasa O2O.
Lebih lanjut Jasin menyebutkan, setiap orang bisa menjadi agen kioson asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan, seperti memiliki toko atau warung dan memiliki rekening bank. Selain itu Kioson sudah bekerja sama dengan Bank Negara Indonesia untuk memudahkan masyarakat di daerah membuat rekening melalui agen Kioson. Jadi ini juga sekaligus mendukung program inklusi keuangan pemerintah, ujarnya.
Nantinya, kata Jasin, akan ada insentif khusus bagi tiap retailer yang bergabung menjadi agen Kioson. Besarannya mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 200.000 per barang. Margin insentif tergantung dari jenis barang yang dijual.
Jasin mengungkapkan, pernah ada agen Kioson di Pematang Siantar yang omzet penjualannya mencapai Rp 90 juta. Pendapatan tersebut didapatkannya dari Kioson.
Untuk saat ini pasar terbesar Kioson masih berada di pulau Jawa sebesar 60 persen, Sumatera 30 persen, dan sisanya di lokasi lain di Indonesia. Tahun 2019 ditargetkan ada 100 ribu agen Kioson di seluruh Indonesia, ujar Jasin.